<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>identitasfana</title>
    <link>https://identitasfana.writeas.com/</link>
    <description>hi! thank you for NOT plagiarizing and resharing my works without permission. enjoy your stay!</description>
    <pubDate>Sun, 19 Apr 2026 12:39:32 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Dungu.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/dungu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tags: Intrusive thoughts. Anger. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;&#xA;  Terinspirasi dari lagu Get Free — Lana Del Rey (please listen, it&#39;s a real gem). &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Jemari menjadi dalang dentum berirama. !--more--Tempo laju nun pelan, menjaga senyap yang masih mengudara bersama purnama dan kelamnya hitam.&#xA;&#xA;Tak terbaca. Entah sebab langit sedang berleha-leha, atau memang ia tuna aksara.&#xA;&#xA;Dulu ia senang dengan buku di hadapannya itu. Buku yang dijaganya penuh kehati-hatian, berharga setara deru napas yang berganti sepersekian detiknya.&#xA;&#xA;Tinta warna-warni, gambar sana-sini, dulu dikagumi hingga timbul wara-wiri. Hembusan angin terasa setiap lembar terbuka.&#xA;&#xA;Angin yang memanggil hujan, begitu tenang hingga sang kapal goyah. Semakin kencang. Semakin lantang.&#xA;&#xA;Semakin ia tak peduli. Semakin ia dirundung benci.&#xA;&#xA;Kini ia mengerti.&#xA;&#xA;Bukan langit yang salah, pun bukan netranya yang ingkar rasa.&#xA;&#xA;Ia dungu saja.&#xA;&#xA;Dirogoh benda remeh dari kantong. Korek api seribuan yang ia beli di warung walau ia tak yakin apa gunanya, kini sudah mendapat makna.&#xA;&#xA;Satu. Dua. Sepuluh. Sekotak ia lemparkan, mengubah lara menjadi bara.&#xA;&#xA;Bersama cahaya yang ia buat, angin, hujan, kapal dan buku itu menghilang.&#xA;&#xA;Hanya tawa yang tersisa.&#xA;&#xA;“Penulis memuakkan.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h5 id="tags-intrusive-thoughts-anger-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-intrusive-thoughts-anger-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Intrusive thoughts. Anger. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<blockquote><p>Terinspirasi dari lagu Get Free — Lana Del Rey (please listen, it&#39;s a real gem).</p></blockquote>

<hr/>

<p>Jemari menjadi dalang dentum berirama. Tempo laju nun pelan, menjaga senyap yang masih mengudara bersama purnama dan kelamnya hitam.</p>

<p>Tak terbaca. Entah sebab langit sedang berleha-leha, atau memang ia tuna aksara.</p>

<p>Dulu ia senang dengan buku di hadapannya itu. Buku yang dijaganya penuh kehati-hatian, berharga setara deru napas yang berganti sepersekian detiknya.</p>

<p>Tinta warna-warni, gambar sana-sini, dulu dikagumi hingga timbul wara-wiri. Hembusan angin terasa setiap lembar terbuka.</p>

<p>Angin yang memanggil hujan, begitu tenang hingga sang kapal goyah. Semakin kencang. Semakin lantang.</p>

<p>Semakin ia tak peduli. Semakin ia dirundung benci.</p>

<p>Kini ia mengerti.</p>

<p>Bukan langit yang salah, pun bukan netranya yang ingkar rasa.</p>

<p>Ia <strong>dungu</strong> saja.</p>

<p>Dirogoh benda remeh dari kantong. Korek api seribuan yang ia beli di warung walau ia tak yakin apa gunanya, kini sudah mendapat makna.</p>

<p>Satu. Dua. Sepuluh. Sekotak ia lemparkan, mengubah lara menjadi bara.</p>

<p>Bersama cahaya yang ia buat, angin, hujan, kapal dan buku itu menghilang.</p>

<p>Hanya tawa yang tersisa.</p>

<p><em>“Penulis memuakkan.”</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/dungu</guid>
      <pubDate>Sun, 08 Aug 2021 06:10:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>(0,0) ; epilog.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/0-0-epilog?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  narasi epilog socmed fiction Titik Nol (0,0).&#xA;&#xA;Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Michimiya Yui. Married!DaiYui. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;“Wah, lucu banget.” !--more--&#xA;&#xA;Yui tersenyum lembut. “Tapi kasihan kan, tokoh utamanya?”&#xA;&#xA;“Tapi kan akhirnya happy ending!” tutur yang lebih muda. “Aku mau deh mbak begini, daripada ketemu cowok nggak jelas.”&#xA;&#xA;“Jadi Yuki tuh capek loh, emang kamu tahan?”&#xA;&#xA;“Iya sih..” gadis itu bergumam. “Eh tapi mbak, kok kisah Yuki sama Daishi agak mirip mas Daichi sama mbak ya? Apalagi waktu bagian lamaran ini loh.”&#xA;&#xA;“Ya mirip dong.” Daichi muncul dari muka pintu, tertawa melihat adiknya terlalu lugu. “Yang nulis kan mbak kamu.”&#xA;&#xA;“HAH? Beneran?”&#xA;&#xA;“Kaget banget ya? Ibu nggak cerita kerjaan mbak apa?” Yui tertawa kecil.&#xA;&#xA;“Nggak.. Ibu cuma bilang mbak atlet takraw. Mas ih, nggak cerita.” si adik merajuk.&#xA;&#xA;“Ya ngapain mas cerita? Toh kamu nggak nanya.” jawab Daichi, lalu melipir ke kamar mandi.&#xA;&#xA;“Mbak kapan nulis lagi? Mbak udah vakum berapa lama ya? Dua tahun?” tanya adik ipar Yui padanya.&#xA;&#xA;“Belum tahu, editor mbak juga lagi sibuk ngurusin nikahan.” jawab Yui. “Tapi tiap ada kesempatan, mbak masih sering nulis sih di blog.”&#xA;&#xA;“Iya, aku sering baca kok. Eh iya, aku minta tanda tangan dong mbak!” Si adik ipar berlari ke kamarnya, mencari pulpen tebal untuk tanda tangan.&#xA;&#xA;Yui menggeleng pelan dengan senyuman yang tertinggal. Sudah setahun sejak ia secara sah menggandeng nama Sawamura. Kini ia tinggal bersama Daichi dan adik iparnya yang tak lama lagi resmi menjadi mahasiswa.&#xA;&#xA;“Yui? Sendiri aja?”&#xA;&#xA;“Iya, adik lagi nyari pena, mau tanda tanganku katanya.” Yui tersenyum. “Capek? Aku buatin teh mau?”&#xA;&#xA;“Minum wedang aja gimana?” tanya Daichi lalu mengecup puncak kepala Yui.&#xA;&#xA;“Si adik gimana? Ditinggal?”&#xA;&#xA;“Ya biarin aja toh? Ntar juga kalau dia udah masuk kuliah bakal ngekos, simulasi tinggal sendirian.” ejek Daichi, mengundang cubitan dari adiknya yang baru saja tiba. Bukannya mengaduh, Daichi malah tertawa.&#xA;&#xA;“Ini novel-novelnya mbak.”&#xA;&#xA;Yui tersenyum hangat melihat empat novelnya yang agak lecek—pertanda sering dibaca—ada di hadapannya, lalu menandatangani tanpa basa-basi.&#xA;&#xA;“Ntar lagi mas mau keluar, pacaran sama mbak. Jaga rumah, jangan ikut.”&#xA;&#xA;“Bayarannya martabak telur daging.” balas si adik sengit.&#xA;&#xA;“Dasar karnivora.”&#xA;&#xA;“Mbak, lihat mas tuh.” &#xA;&#xA;“Iya, nanti mbak belikan.” Yui mengelus rambut panjang si adik ipar. “Aku ganti baju dulu, aneh kan kalau pakai daster.”&#xA;&#xA;Yui berjalan menuju kamar, tanpa sadar senyumnya merayap.&#xA;&#xA;Tidak perlu kata-kata romantis untuk membuat hati Yui menghangat walau agak porak-poranda; hanya butuh Daichi yang menjadi dirinya seperti biasa—memberinya kecupan manis di kening setiap pulang kerja, senyuman yang tulus ketika netra saling menatap, dan cara ia memanggil namanya—tidak seorangpun bisa melakukan hal yang sama sepertinya.&#xA;&#xA;Langkah Yui ringan karena akhirnya ia punya waktu untuk jalan berdua. Kesibukan masing-masing membatasi interaksi yang kini harus mereka curi-curi.&#xA;&#xA;Belum sempat Yui menutup pintu, Daichi memeluknya dari belakang.&#xA;&#xA;“Eh, kamu ngapain ikutan?!”&#xA;&#xA;“Nanti kamu diculik, biar aku jagain sambil ganti baju.”&#xA;&#xA;Yui tertawa.&#xA;&#xA;“Ada-ada aja.”&#xA;&#xA;Yui bahagia.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>narasi epilog <em>socmed fiction</em> Titik Nol (0,0).</p></blockquote>

<h5 id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-michimiya-yui-married-daiyui-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-michimiya-yui-married-daiyui-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Michimiya Yui. Married!DaiYui. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<hr/>

<p>“Wah, lucu banget.” </p>

<p>Yui tersenyum lembut. “Tapi kasihan kan, tokoh utamanya?”</p>

<p>“Tapi kan akhirnya <em>happy ending</em>!” tutur yang lebih muda. “Aku mau deh mbak begini, daripada ketemu cowok nggak jelas.”</p>

<p>“Jadi Yuki tuh capek loh, emang kamu tahan?”</p>

<p>“Iya sih..” gadis itu bergumam. “Eh tapi mbak, kok kisah Yuki sama Daishi agak mirip mas Daichi sama mbak ya? Apalagi waktu bagian lamaran ini loh.”</p>

<p>“Ya mirip dong.” Daichi muncul dari muka pintu, tertawa melihat adiknya terlalu lugu. “Yang nulis kan mbak kamu.”</p>

<p>“HAH? Beneran?”</p>

<p>“Kaget banget ya? Ibu nggak cerita kerjaan mbak apa?” Yui tertawa kecil.</p>

<p>“Nggak.. Ibu cuma bilang mbak atlet takraw. Mas ih, nggak cerita.” si adik merajuk.</p>

<p>“Ya ngapain mas cerita? Toh kamu nggak nanya.” jawab Daichi, lalu melipir ke kamar mandi.</p>

<p>“Mbak kapan nulis lagi? Mbak udah vakum berapa lama ya? Dua tahun?” tanya adik ipar Yui padanya.</p>

<p>“Belum tahu, editor mbak juga lagi sibuk ngurusin nikahan.” jawab Yui. “Tapi tiap ada kesempatan, mbak masih sering nulis sih di blog.”</p>

<p>“Iya, aku sering baca kok. Eh iya, aku minta tanda tangan dong mbak!” Si adik ipar berlari ke kamarnya, mencari pulpen tebal untuk tanda tangan.</p>

<p>Yui menggeleng pelan dengan senyuman yang tertinggal. Sudah setahun sejak ia secara sah menggandeng nama Sawamura. Kini ia tinggal bersama Daichi dan adik iparnya yang tak lama lagi resmi menjadi mahasiswa.</p>

<p>“Yui? Sendiri aja?”</p>

<p>“Iya, adik lagi nyari pena, mau tanda tanganku katanya.” Yui tersenyum. “Capek? Aku buatin teh mau?”</p>

<p>“Minum wedang aja gimana?” tanya Daichi lalu mengecup puncak kepala Yui.</p>

<p>“Si adik gimana? Ditinggal?”</p>

<p>“Ya biarin aja toh? Ntar juga kalau dia udah masuk kuliah bakal ngekos, simulasi tinggal sendirian.” ejek Daichi, mengundang cubitan dari adiknya yang baru saja tiba. Bukannya mengaduh, Daichi malah tertawa.</p>

<p>“Ini novel-novelnya mbak.”</p>

<p>Yui tersenyum hangat melihat empat novelnya yang agak lecek—pertanda sering dibaca—ada di hadapannya, lalu menandatangani tanpa basa-basi.</p>

<p>“Ntar lagi mas mau keluar, pacaran sama mbak. Jaga rumah, jangan ikut.”</p>

<p>“Bayarannya martabak telur daging.” balas si adik sengit.</p>

<p>“Dasar karnivora.”</p>

<p>“Mbak, lihat mas tuh.”</p>

<p>“Iya, nanti mbak belikan.” Yui mengelus rambut panjang si adik ipar. “Aku ganti baju dulu, aneh kan kalau pakai daster.”</p>

<p>Yui berjalan menuju kamar, tanpa sadar senyumnya merayap.</p>

<p>Tidak perlu kata-kata romantis untuk membuat hati Yui menghangat walau agak porak-poranda; hanya butuh Daichi yang menjadi dirinya seperti biasa—memberinya kecupan manis di kening setiap pulang kerja, senyuman yang tulus ketika netra saling menatap, dan cara ia memanggil namanya—tidak seorangpun bisa melakukan hal yang sama sepertinya.</p>

<p>Langkah Yui ringan karena akhirnya ia punya waktu untuk jalan berdua. Kesibukan masing-masing membatasi interaksi yang kini harus mereka curi-curi.</p>

<p>Belum sempat Yui menutup pintu, Daichi memeluknya dari belakang.</p>

<p>“Eh, kamu ngapain ikutan?!”</p>

<p>“Nanti kamu diculik, biar aku jagain sambil ganti baju.”</p>

<p>Yui tertawa.</p>

<p>“Ada-ada aja.”</p>

<p>Yui bahagia.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/0-0-epilog</guid>
      <pubDate>Wed, 04 Aug 2021 05:02:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>(0,0) ; narasi tiga.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/0-0-narasi-tiga?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  narasi bagian tiga socmed fiction Titik Nol (0,0).&#xA;&#xA;Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Michimiya Yui. DaiYui. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Bohong kalau Yui bilang dirinya tak gentar.!--more--&#xA;&#xA;Televisi menyala, tapi pikirannya kemana-mana. Bahkan satu toples stik keju tak berarti, karena yang ia gigiti malah jari sendiri.&#xA;&#xA;Katanya bisa dengan berpura-pura hingga terbiasa, nyatanya Yui malah semakin tersiksa, dan akhirnya memilih jujur saja. Ia tak menyesal, tidak sampai Daichi malah minta izin bertemu. Bagaimana bisa ia menolak saat hatinya juga dirundung rindu?&#xA;&#xA;Hentak kaki kiri kanan bergantian. Sebentar lagi kisah Yui akan diadili, entah ia harus dikenai hukuman mati atau malah tidak bersalah.&#xA;&#xA;Gemetar lututnya kala didengarnya ketukan, sebab gugup berhasil melingkup. Membuka pintu, yang ditunggu datang dengan bungkusan makanan.&#xA;&#xA;“Lama ya? Aku beli jajanan dulu tadi.”&#xA;&#xA;Yui mempersilakan ia masuk. “Ngapain bawa jajanan sih? Disini juga ada.”&#xA;&#xA;“Masa bertamu nggak bawa apa-apa?” Daichi tersenyum. “Ini es buah by the way.”&#xA;&#xA;“Kok nggak bilang dari tadi?” mata Yui berbinar mendengar nama itu lalu segera mengambil mangkuk dari dapur, membuat Daichi tertawa.&#xA;&#xA;Mereka duduk lesehan menghadap televisi, sibuk menikmati jajanan. Tidak ada yang memulai pembicaraan, entah karena grogi atau sihir makanan yang terlalu memikat.&#xA;&#xA;“Udah makan siang?”&#xA;&#xA;“Udah.” jawab Daichi.&#xA;&#xA;Hening lagi.&#xA;&#xA;“Michimiya.. soal yang kita bicarain di chat..”&#xA;&#xA;“....”&#xA;&#xA;“Aku.. aduh, gimana ya mulainya.” Daichi menggeser badannya, menghadap Yui yang matanya masih teguh berporos pada mangkuk es buah.&#xA;&#xA;“Soal itu.. kalau aku pelan-pelan, kita bisa membaik lagi kan?”&#xA;&#xA;“Kayak dulu sebelum gue confess?”&#xA;&#xA;“Aku pengen kita deket—” &#xA;&#xA;“Coba aja kalau gue nggak confess, pasti hubungan kita nggak hancur.” sanggah Yui cepat.&#xA;&#xA;“Sebenarnya yang hancurin semuanya aku, kan?”&#xA;&#xA;Yui tercekat. Senyum dipaksanya hadir walau hambar.&#xA;&#xA;“Kamu yang paling tahu itu, Yui.”&#xA;&#xA;Yui membiarkan suara televisi mewakilinya. Agak terkejut juga, kala didengar namanya dengan indah keluar dari mulut sang tuan.&#xA;&#xA;“Aku minta maaf. Aku paham kenapa kamu bersikap kayak sekarang, dan memohon untuk kamu lupain penolakanku juga nggak mungkin. Aku mau kesempatan bukan untuk jadi diri kita yang dulu.&#xA;&#xA;“Aneh kan, kalau kita udah sejauh ini cuma untuk kembali?&#xA;&#xA;“Aku yang dulu naif dan bodoh. Mana mungkin aku perlakuin kamu yang sekarang dengan diri yang kayak gitu.”&#xA;&#xA;Aneh, rasanya semua jajanan di perut Yui menghilang tanpa ia merasa lapar. Mungkin itu tumbal untuk jantungnya yang berusaha tetap berdetak.&#xA;&#xA;“Kamu.. suka aku atau gimana?” tanya Yui.&#xA;&#xA;“Aku nggak paham sih, kamu bisa bantu?” pinta Daichi.&#xA;&#xA;“Aku nyaman, dan waktu kamu bilang suka itu aku agak takut? Kalau ntar aku ninggalin kamu waktu pendidikan gimana, apa LDR tanpa tukar kabar nggak masalah, kamu kuliah di Bandung sementara aku di Semarang..&#xA;&#xA;“Buat hubungin keluarga aja jarang. Aku nggak bisa tanya gimana hari kamu tiap hari meskipun aku mau tahu. Dan dengan keadaan begitu, aku malah tahan kamu dengan embel-embel pacar, padahal kamu berhak didengar dan disayangi orang lain. Gitu..”&#xA;&#xA;Yui melongo tak percaya, setengah menyangkal adanya kebenaran di tiap kata yang terlontar.&#xA;&#xA;Masa iya?&#xA;&#xA;Ditatapnya pria yang tertunduk itu lekat-lekat, membuatnya teringat akan dirinya saat itu—saat keberaniannya lenyap bersama pengakuan, enggan mendapat jawaban.&#xA;&#xA;Apa gue dulu begini ya di mata Daichi?&#xA;&#xA;“Kamu nggak naif sih sampai mikirin semuanya kayak gitu..” sangkal Yui. “..tapi bodoh, soalnya kamu nggak bicara tentang ini waktu nolak aku.”&#xA;&#xA;“Iya kan..” Daichi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.&#xA;&#xA;Dan lagi, suara televisi unjuk diri. Keduanya sibuk bermonolog dalam pikiran, membuat teori-teori yang masuk akal setelah semua terungkap. Berbeda dengan Daichi yang terlihat gugup setengah mati, Yui malah seperti tak bereaksi.&#xA;&#xA;Ini ditolak lagi?&#xA;&#xA;“Kapan?”&#xA;&#xA;“Hah? Apanya?” Daichi menatap sang puan dengan raut bingung.&#xA;&#xA;Yui menghela nafas.&#xA;&#xA;“Kapan mau cari kado Ibu?” tanyanya lagi, melepas senyum yang gagal sembunyi.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>narasi bagian tiga <em>socmed fiction</em> Titik Nol (0,0).</p></blockquote>

<h5 id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-michimiya-yui-daiyui-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-michimiya-yui-daiyui-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Michimiya Yui. DaiYui. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<hr/>

<p>Bohong kalau Yui bilang dirinya tak gentar.</p>

<p>Televisi menyala, tapi pikirannya kemana-mana. Bahkan satu toples stik keju tak berarti, karena yang ia gigiti malah jari sendiri.</p>

<p>Katanya bisa dengan berpura-pura hingga terbiasa, nyatanya Yui malah semakin tersiksa, dan akhirnya memilih jujur saja. Ia tak menyesal, tidak sampai Daichi malah minta izin bertemu. Bagaimana bisa ia menolak saat hatinya juga dirundung rindu?</p>

<p>Hentak kaki kiri kanan bergantian. Sebentar lagi kisah Yui akan diadili, entah ia harus dikenai hukuman mati atau malah tidak bersalah.</p>

<p>Gemetar lututnya kala didengarnya ketukan, sebab gugup berhasil melingkup. Membuka pintu, yang ditunggu datang dengan bungkusan makanan.</p>

<p>“Lama ya? Aku beli jajanan dulu tadi.”</p>

<p>Yui mempersilakan ia masuk. “Ngapain bawa jajanan sih? Disini juga ada.”</p>

<p>“Masa bertamu nggak bawa apa-apa?” Daichi tersenyum. “Ini es buah <em>by the way</em>.”</p>

<p>“Kok nggak bilang dari tadi?” mata Yui berbinar mendengar nama itu lalu segera mengambil mangkuk dari dapur, membuat Daichi tertawa.</p>

<p>Mereka duduk lesehan menghadap televisi, sibuk menikmati jajanan. Tidak ada yang memulai pembicaraan, entah karena grogi atau sihir makanan yang terlalu memikat.</p>

<p>“Udah makan siang?”</p>

<p>“Udah.” jawab Daichi.</p>

<p>Hening lagi.</p>

<p>“Michimiya.. soal yang kita bicarain di <em>chat</em>..”</p>

<p>“....”</p>

<p>“Aku.. aduh, gimana ya mulainya.” Daichi menggeser badannya, menghadap Yui yang matanya masih teguh berporos pada mangkuk es buah.</p>

<p>“Soal itu.. kalau aku pelan-pelan, kita bisa membaik lagi kan?”</p>

<p>“Kayak dulu sebelum gue <em>confess</em>?”</p>

<p>“Aku pengen kita deket—”</p>

<p>“Coba aja kalau gue nggak <em>confess</em>, pasti hubungan kita nggak hancur.” sanggah Yui cepat.</p>

<p>“Sebenarnya yang hancurin semuanya aku, kan?”</p>

<p>Yui tercekat. Senyum dipaksanya hadir walau hambar.</p>

<p>“Kamu yang paling tahu itu, Yui.”</p>

<p>Yui membiarkan suara televisi mewakilinya. Agak terkejut juga, kala didengar namanya dengan indah keluar dari mulut sang tuan.</p>

<p>“Aku minta maaf. Aku paham kenapa kamu bersikap kayak sekarang, dan memohon untuk kamu lupain penolakanku juga nggak mungkin. Aku mau kesempatan bukan untuk jadi diri kita yang dulu.</p>

<p>“Aneh kan, kalau kita udah sejauh ini cuma untuk kembali?</p>

<p>“Aku yang dulu naif dan bodoh. Mana mungkin aku perlakuin kamu yang sekarang dengan diri yang kayak gitu.”</p>

<p>Aneh, rasanya semua jajanan di perut Yui menghilang tanpa ia merasa lapar. Mungkin itu tumbal untuk jantungnya yang berusaha tetap berdetak.</p>

<p>“Kamu.. suka aku atau gimana?” tanya Yui.</p>

<p>“Aku nggak paham sih, kamu bisa bantu?” pinta Daichi.</p>

<p>“Aku nyaman, dan waktu kamu bilang suka itu aku agak takut? Kalau ntar aku ninggalin kamu waktu pendidikan gimana, apa LDR tanpa tukar kabar nggak masalah, kamu kuliah di Bandung sementara aku di Semarang..</p>

<p>“Buat hubungin keluarga aja jarang. Aku nggak bisa tanya gimana hari kamu tiap hari meskipun aku mau tahu. Dan dengan keadaan begitu, aku malah tahan kamu dengan embel-embel <em>pacar</em>, padahal kamu berhak didengar dan disayangi orang lain. Gitu..”</p>

<p>Yui melongo tak percaya, setengah menyangkal adanya kebenaran di tiap kata yang terlontar.</p>

<p><em>Masa iya?</em></p>

<p>Ditatapnya pria yang tertunduk itu lekat-lekat, membuatnya teringat akan dirinya saat itu—saat keberaniannya lenyap bersama pengakuan, enggan mendapat jawaban.</p>

<p><em>Apa gue dulu begini ya di mata Daichi?</em></p>

<p>“Kamu nggak naif sih sampai mikirin semuanya kayak gitu..” sangkal Yui. “..tapi bodoh, soalnya kamu nggak bicara tentang ini waktu nolak aku.”</p>

<p>“Iya kan..” Daichi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.</p>

<p>Dan lagi, suara televisi unjuk diri. Keduanya sibuk bermonolog dalam pikiran, membuat teori-teori yang masuk akal setelah semua terungkap. Berbeda dengan Daichi yang terlihat gugup setengah mati, Yui malah seperti tak bereaksi.</p>

<p><em>Ini ditolak lagi?</em></p>

<p>“Kapan?”</p>

<p>“Hah? Apanya?” Daichi menatap sang puan dengan raut bingung.</p>

<p>Yui menghela nafas.</p>

<p>“Kapan mau cari kado Ibu?” tanyanya lagi, melepas senyum yang gagal sembunyi.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/0-0-narasi-tiga</guid>
      <pubDate>Wed, 04 Aug 2021 01:32:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>(0,0) ; narasi dua.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/0-0-narasi-dua?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  narasi bagian dua socmed fiction Titik Nol (0,0).&#xA;&#xA;Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Michimiya Yui. DaiYui. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Pagi itu cukup sejuk, matahari belum terlalu terik meski sisa dua puluh menit menuju pukul delapan.!--more-- Terlihat beberapa orang berlari, satu-dua keluarga ditemani anak-anak mengayuh sepeda.&#xA;&#xA;Yui tersenyum. Diiringi musik klasik ia berlari konstan. Kepalanya dihiasi bando kucing yang biasanya dipakai setiap cuci muka malam hari, lantaran bando plastiknya patah—terima kasih pada Mao sang editor.&#xA;&#xA;“Serius banget.”&#xA;&#xA;Yui menoleh lalu mengernyitkan dahi. Manusia yang berlari di pikirannya pun kini berlari di sekitarnya juga, dan Yui jengah.&#xA;&#xA;“Sawamura?” tanyanya, menghentikan musik dari headset. “Lo dari rumah? Jauh banget lari sampai sini.” &#xA;&#xA;“Nggak kok, tadi malam nginap di rumah Asahi. Rumahnya dekat dari sini.”&#xA;&#xA;“Oh gitu.”&#xA;&#xA;Percakapan berhenti di sana, namun langkah mereka setara—malah harmonis, dan ia takut harus berlari sejauh apa bersamanya. Yui meringis, tahu kalau kisah cintanya tak bisa seiring seperti ini.&#xA;&#xA;“Jadi ingat zaman SMA.” ujar Daichi tiba-tiba.&#xA;&#xA;Yui cuma mengangguk dan tersenyum kecil.&#xA;&#xA;Gue tiap liat lo keinget masa SMA mulu.&#xA;&#xA;“Kamu makin kuat.” tukas Daichi. “Dulu kamu lari dua putaran aja ngos-ngosan.”&#xA;&#xA;“Ya gimana, makin kesini gue makin atletis karena sering lari.”&#xA;&#xA;—dari kenyataan, sambungnya dalam hati.&#xA;&#xA;“Kamu masih main voli?”&#xA;&#xA;“Nggak, gue main takraw.”&#xA;&#xA;“Wow.” Daichi berhenti sejenak, memandangi wajah Yui yang memerah berkeringat. “Sejak kapan?”&#xA;&#xA;“Kurang lebih empat tahun.” jawab Yui sambil berjalan.&#xA;&#xA;“Habis SMA banget dong? Ikut turnamen juga?”&#xA;&#xA;Yui mengangguk. “Tapi tahun kedua deh baru gue ikutan, harus latihan banyak biar nggak nyusahin tim.”&#xA;&#xA;Daichi tersenyum terkesima. “Keren.”&#xA;&#xA;Yui bingung entah debaran di hatinya ini adalah efek samping berlari atau karena senyum dan tutur kata Daichi yang membuatnya lupa diri, satu yang pasti adalah suara detak yang begitu kuat hingga ia takut seluruh penjuru dunia mendengar.&#xA;&#xA;“Thank you.”&#xA;&#xA;“By the way, udah sarapan belum? Bareng yuk.” ajak Daichi.&#xA;&#xA;Untuk kedua kalinya Yui mengernyit. Ia bingung kenapa Daichi seperti ingin mendekatinya akhir-akhir ini.&#xA;&#xA;Ha, yang benar aja.&#xA;&#xA;“Oke. Mau sarapan apa? Di dekat sini ada bubur ayam enak, gimana?”&#xA;&#xA;“Boleh.”&#xA;&#xA;Kini mereka berjalan beriringan. Salahkan tangan yang bersinggung; benteng pertahanan Yui hampir runtuh diserang sentuh, dan ia sibuk menyusun batu, membangun akal sehatnya sebelum benar-benar lepas kendali.&#xA;&#xA;Bohong jika ia tidak merasakan gemuruh di dadanya, seperti elegi yang memanggil badai.&#xA;&#xA;Tiba di warung bubur, Daichi meminta Yui mencari bangku lebih dulu. Yui hanya mengangguk, beruntung juga karena ia diberi waktu sesaat untuk mengontrol emosi.&#xA;&#xA;Naas, semuanya sia-sia. Daichi mendatanginya dengan jaket yang sudah dilepas, memberikannya kepada Yui yang termangu.&#xA;&#xA;“Dipakai ya, baju kamu basah. Maaf jaketnya bekas aku.” Daichi menggaruk kepalanya, sedikit rona merah di telinganya membuat Yui juga malu-malu. &#xA;&#xA;Yui lupa apa itu kasmaran, dan mungkin saja hari ini ia diizinkan untuk merasakannya kembali.&#xA;&#xA;“P-perlu gue balas pakai jaket juga nanti?” tanyanya terbata.&#xA;&#xA;Daichi menggeleng dan tersenyum lembut.&#xA;&#xA;“Pakai alamat rumah kamu aja cukup.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>narasi bagian dua <em>socmed fiction</em> Titik Nol (0,0).</p></blockquote>

<h5 id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-michimiya-yui-daiyui-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-michimiya-yui-daiyui-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Michimiya Yui. DaiYui. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<hr/>

<p>Pagi itu cukup sejuk, matahari belum terlalu terik meski sisa dua puluh menit menuju pukul delapan. Terlihat beberapa orang berlari, satu-dua keluarga ditemani anak-anak mengayuh sepeda.</p>

<p>Yui tersenyum. Diiringi musik klasik ia berlari konstan. Kepalanya dihiasi bando kucing yang biasanya dipakai setiap cuci muka malam hari, lantaran bando plastiknya patah—terima kasih pada Mao sang editor.</p>

<p>“Serius banget.”</p>

<p>Yui menoleh lalu mengernyitkan dahi. Manusia yang berlari di pikirannya pun kini berlari di sekitarnya juga, dan Yui jengah.</p>

<p>“Sawamura?” tanyanya, menghentikan musik dari headset. “Lo dari rumah? Jauh banget lari sampai sini.”</p>

<p>“Nggak kok, tadi malam nginap di rumah Asahi. Rumahnya dekat dari sini.”</p>

<p>“Oh gitu.”</p>

<p>Percakapan berhenti di sana, namun langkah mereka setara—malah harmonis, dan ia takut harus berlari sejauh apa bersamanya. Yui meringis, tahu kalau kisah cintanya tak bisa seiring seperti ini.</p>

<p>“Jadi ingat zaman SMA.” ujar Daichi tiba-tiba.</p>

<p>Yui cuma mengangguk dan tersenyum kecil.</p>

<p><em>Gue tiap liat lo keinget masa SMA mulu.</em></p>

<p>“Kamu makin kuat.” tukas Daichi. “Dulu kamu lari dua putaran aja ngos-ngosan.”</p>

<p>“Ya gimana, makin kesini gue makin atletis karena sering lari.”</p>

<p><em>—dari kenyataan</em>, sambungnya dalam hati.</p>

<p>“Kamu masih main voli?”</p>

<p>“Nggak, gue main takraw.”</p>

<p>“<em>Wow.</em>” Daichi berhenti sejenak, memandangi wajah Yui yang memerah berkeringat. “Sejak kapan?”</p>

<p>“Kurang lebih empat tahun.” jawab Yui sambil berjalan.</p>

<p>“Habis SMA banget dong? Ikut turnamen juga?”</p>

<p>Yui mengangguk. “Tapi tahun kedua deh baru gue ikutan, harus latihan banyak biar nggak nyusahin tim.”</p>

<p>Daichi tersenyum terkesima. “Keren.”</p>

<p>Yui bingung entah debaran di hatinya ini adalah efek samping berlari atau karena senyum dan tutur kata Daichi yang membuatnya lupa diri, satu yang pasti adalah suara detak yang begitu kuat hingga ia takut seluruh penjuru dunia mendengar.</p>

<p>“<em>Thank you</em>.”</p>

<p>“<em>By the way</em>, udah sarapan belum? Bareng yuk.” ajak Daichi.</p>

<p>Untuk kedua kalinya Yui mengernyit. Ia bingung kenapa Daichi seperti ingin mendekatinya akhir-akhir ini.</p>

<p><em>Ha, yang benar aja.</em></p>

<p>“Oke. Mau sarapan apa? Di dekat sini ada bubur ayam enak, gimana?”</p>

<p>“Boleh.”</p>

<p>Kini mereka berjalan beriringan. Salahkan tangan yang bersinggung; benteng pertahanan Yui hampir runtuh diserang sentuh, dan ia sibuk menyusun batu, membangun akal sehatnya sebelum benar-benar lepas kendali.</p>

<p>Bohong jika ia tidak merasakan gemuruh di dadanya, seperti elegi yang memanggil badai.</p>

<p>Tiba di warung bubur, Daichi meminta Yui mencari bangku lebih dulu. Yui hanya mengangguk, beruntung juga karena ia diberi waktu sesaat untuk mengontrol emosi.</p>

<p>Naas, semuanya sia-sia. Daichi mendatanginya dengan jaket yang sudah dilepas, memberikannya kepada Yui yang termangu.</p>

<p>“Dipakai ya, baju kamu basah. Maaf jaketnya bekas aku.” Daichi menggaruk kepalanya, sedikit rona merah di telinganya membuat Yui juga malu-malu.</p>

<p>Yui lupa apa itu kasmaran, dan mungkin saja hari ini ia diizinkan untuk merasakannya kembali.</p>

<p>“P-perlu gue balas pakai jaket juga nanti?” tanyanya terbata.</p>

<p>Daichi menggeleng dan tersenyum lembut.</p>

<p>“Pakai alamat rumah kamu aja cukup.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/0-0-narasi-dua</guid>
      <pubDate>Sat, 31 Jul 2021 09:56:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>(0,0) ; narasi satu.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/0-0-narasi-satu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  narasi bagian satu socmed fiction Titik Nol (0,0).&#xA;&#xA;Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Sugawara Koushi. Azumane Asahi. Michimiya Yui. DaiYui. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;“Ditolak.”!--more--&#xA;&#xA;Tiga orang lelaki berbusana rumah rebah telentang di atas karpet bulu, yang satu jadi bahan tertawaan yang dua. Ia hanya bisa tersenyum kecut.&#xA;&#xA;“Ngegas amat lu kek nagih utang.” tukas Koushi. “Dibawa santai aja.”&#xA;&#xA;“Gue bingung mulai dari mana..” ujar Daichi. “Padahal dulu kita sering minum wedang bareng, gue pikir dia bakal bilang iya.”&#xA;&#xA;“Ini udah malem banget nggak sih? Hampir jam 12.”&#xA;&#xA;“Ya kan kita udah gede, ada gue juga bisa jagain.”&#xA;&#xA;“Gaya lo ngejagain.” ejek Koushi. “Lagian kenapa bilang ‘kita’ sih? Kan yang mau pergi lo doang.”&#xA;&#xA;“Makin segan dia, dikira ganggu ntar kalo dia ikut.” tambah Asahi.&#xA;&#xA;Daichi terdiam sesaat, seolah menata isi pikirannya. “Gue malah mikir kalo rame dia bakalan mau.”&#xA;&#xA;Koushi mendelik. “Yang kayak Asahi aja ngerti beginian, lo gimana sih.”&#xA;&#xA;“Emang gue kayak apa?” protes Asahi sambil tersenyum kesal, yang hanya dibalas cengiran oleh Koushi.&#xA;&#xA;“Mana chat gue dibaca doang.” Daichi menghela napas, melihat ruang obrolannya dengan sang puan dengan tatapan kosong.&#xA;&#xA;“Lah, lo cuma bales ‘oke’? Ya wajarlah dibaca doang.” Asahi tertawa setelah mengintip layar itu sedikit. “Kan bisa bilang selamat malem, jangan kecapekan, apa gitu.”&#xA;&#xA;“Yaudah hari ini udahan aja, besok coba lagi. Pelan-pelan, ntar dia pergi lo juga yang kapok.”&#xA;&#xA;Keheningan menyapu ruangan itu, memberi panggung bagi suara kipas angin untuk unjuk diri. Tiga pasang netra menyapu langit-langit dengan pikiran masing-masing.&#xA;&#xA;Daichi tahu ia buru-buru, tapi ia sudah terlanjur memulai. Ia tak ingin lari lagi.&#xA;&#xA;Ia sudah membuka jalannya sendiri, dan bukan kesalahan yang ingin ia ulangi. Sebab rasa sesalnya sebesar rasa inginnya untuk kembali.&#xA;&#xA;Ia enggan kehilangan.&#xA;&#xA;“Iya juga. By the way..”&#xA;&#xA;Dua pasang mata menoleh ke arah suara.&#xA;&#xA;“Kalian beneran nggak mau wedang?”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>narasi bagian satu <em>socmed fiction</em> Titik Nol (0,0).</p></blockquote>

<h5 id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-sugawara-koushi-azumane-asahi-michimiya-yui-daiyui-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-sugawara-koushi-azumane-asahi-michimiya-yui-daiyui-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Sugawara Koushi. Azumane Asahi. Michimiya Yui. DaiYui. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<hr/>

<p>“Ditolak.”</p>

<p>Tiga orang lelaki berbusana rumah rebah telentang di atas karpet bulu, yang satu jadi bahan tertawaan yang dua. Ia hanya bisa tersenyum kecut.</p>

<p>“Ngegas amat lu kek nagih utang.” tukas Koushi. “Dibawa santai aja.”</p>

<p>“Gue bingung mulai dari mana..” ujar Daichi. “Padahal dulu kita sering minum wedang bareng, gue pikir dia bakal bilang iya.”</p>

<p>“Ini udah malem banget nggak sih? Hampir jam 12.”</p>

<p>“Ya kan kita udah gede, ada gue juga bisa jagain.”</p>

<p>“Gaya lo ngejagain.” ejek Koushi. “Lagian kenapa bilang ‘kita’ sih? Kan yang mau pergi lo doang.”</p>

<p>“Makin segan dia, dikira ganggu ntar kalo dia ikut.” tambah Asahi.</p>

<p>Daichi terdiam sesaat, seolah menata isi pikirannya. “Gue malah mikir kalo rame dia bakalan mau.”</p>

<p>Koushi mendelik. “Yang kayak Asahi aja ngerti beginian, lo gimana sih.”</p>

<p>“Emang gue kayak apa?” protes Asahi sambil tersenyum kesal, yang hanya dibalas cengiran oleh Koushi.</p>

<p>“Mana chat gue dibaca doang.” Daichi menghela napas, melihat ruang obrolannya dengan sang puan dengan tatapan kosong.</p>

<p>“Lah, lo cuma bales ‘oke’? Ya wajarlah dibaca doang.” Asahi tertawa setelah mengintip layar itu sedikit. “Kan bisa bilang selamat malem, jangan kecapekan, apa gitu.”</p>

<p>“Yaudah hari ini udahan aja, besok coba lagi. Pelan-pelan, ntar dia pergi lo juga yang kapok.”</p>

<p>Keheningan menyapu ruangan itu, memberi panggung bagi suara kipas angin untuk unjuk diri. Tiga pasang netra menyapu langit-langit dengan pikiran masing-masing.</p>

<p>Daichi tahu ia buru-buru, tapi ia sudah terlanjur memulai. Ia tak ingin lari lagi.</p>

<p>Ia sudah membuka jalannya sendiri, dan bukan kesalahan yang ingin ia ulangi. Sebab rasa sesalnya sebesar rasa inginnya untuk kembali.</p>

<p>Ia enggan kehilangan.</p>

<p>“Iya juga. <em>By the way..</em>”</p>

<p>Dua pasang mata menoleh ke arah suara.</p>

<p>“Kalian beneran nggak mau wedang?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/0-0-narasi-satu</guid>
      <pubDate>Mon, 26 Jul 2021 01:49:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Nuansa.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/nuansa?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  /nu·an·sa/ n. kepekaan terhadap, kewaspadaan atas, atau kemampuan menyatakan adanya pergeseran yang kecil sekali (tentang makna, perasaan, atau nilai);&#xA;&#xA;Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Michimiya Yui. DaiYui. Fluff. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;Word count: 616.&#xA;---&#xA;&#xA;Dasar manusia tak pernah puas, Daichi adalah kasus yang Yui tangani begitu tekun—suara dari lelaki itu tak cukup menjadi jawaban. Yui itu tamak, rakus ketika berhadapan dengan misteri.!--more--&#xA;&#xA;Seperti saat ini, mereka sedang duduk berdua di minimarket—ditemani mi instan dan kopi susu—menonton langit Yogyakarta menangis. Terima kasih untuk Sugawara, tim suksesnya yang selalu bisa diandalkan untuk memberi kesempatan baginya yang terlalu cupu.&#xA;&#xA;“Maaf ya, harusnya aku siapin kopian proposalnya dari awal.”&#xA;&#xA;“Santai aja.” lelaki itu melempar senyum. “Lagian udah lama nggak nontonin hujan begini. Tenang juga.”&#xA;&#xA;Yui mengangguk setuju sambil menyeruput kuah mi perisa soto. Memang paling pas jika dinikmati saat hangat.&#xA;&#xA;“Deras juga.. Bumi kesakitan nggak ya?” gumamnya, cukup keras untuk didengar Daichi.&#xA;&#xA;“Pernah baca, katanya daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Mungkin bumi juga gitu.”&#xA;&#xA;“Oh? Kamu baca Tere Liye juga?” Yui menatapnya tak percaya. “Kupikir kamu nggak tipikal pembaca buku.”&#xA;&#xA;“Iseng aja. Ibuku suka baca buku.”&#xA;&#xA;“Keren.” puji Yui tulus, mengingat ibunya lebih suka menonton acara gosip di televisi daripada membaca—pengecualian untuk broadcast konyol yang diterima di grup keluarga besar.&#xA;&#xA;“Mau aku kenalin?”&#xA;&#xA;Bukan fakta baru, namun ini acap kali terjadi hingga buku harian Yui penuh kata-kata ini: Daichi piawai memainkan perasaan, bahkan tanpa terlihat mencoba.&#xA;&#xA;Yui memutuskan untuk tertawa saja sembari mengontrol gejolak hatinya, meskipun ia penasaran setengah mati bagaimana reaksi Daichi jika ia jawab bersedia.&#xA;&#xA;Palingan juga senyum aja.&#xA;&#xA;“Hujannya reda tuh, balik yuk? Aku anter.”&#xA;&#xA;“Adikmu nggak dijemput?”&#xA;&#xA;“Udah balik sama Ibu naik mobil.” Daichi mengambil kunci motornya. &#xA;&#xA;“Maaf lagi, kamu malah jadi nganter aku pulang. Aku pesan ojol aja ya?” &#xA;&#xA;“Udah ah, maaf-maaf terus. Kayak sama siapa aja.”&#xA;&#xA;Siapapun tolong hentikan lelaki ini.&#xA;&#xA;Yui mengangguk lalu mengikutinya. Namun belum sempat membuka pintu keluar, Daichi berhenti.&#xA;&#xA;“Dingin.”&#xA;&#xA;“Memang.” jawab Yui. “Terus itu jaketnya kenapa dilepas?”&#xA;&#xA;“Dipakai kamu aja.”&#xA;&#xA;Astaga.&#xA;&#xA;Yui tidak tahu seberapa kacau rupanya saat itu, namun kepalanya pusing dan ia lelah. Debar jantungnya memburu, padahal ia bukan sedang penalti keliling lapangan sekolah.&#xA;&#xA;“Nggak bisa gitu. Anginnya kan kena kamu duluan, masa yang dibentengi aku sih?”&#xA;&#xA;“Cuma sepuluh menit.”&#xA;&#xA;Yui menghela napas sebelum akhirnya setuju, takut-takut kalau hujan datang lagi dan mereka harus menunggu lebih lama.&#xA;&#xA;Perjalanan yang hening, mungkin karena Daichi sudah berbincang cukup panjang dengannya. Terlebih hari itu terbilang melelahkan; menjadi siswa, pengurus ekskul, dan panitia perpisahan menyita banyak waktu dan tenaga.&#xA;&#xA;Mereka tiba di depan rumah Yui. Sesegera Yui turun dan melepas jaket, Daichi lebih dahulu mencegatnya. Lengan Yui ditahan tangan nan beku.&#xA;&#xA;“Nggak perlu.”&#xA;&#xA;“Hah? Yang bener aja kamu naik motor begitu ke rumah! Tangan kamu pucat banget.” Yui mengomel.&#xA;&#xA;Kalau saja Yui sekarang sedang tidak khawatir, mungkin ia sudah jingkrak-jingkrak kesenangan dan berpikir untuk menyimpan jaket wangi Daichi untuk sekian hari.&#xA;&#xA;“Nggak jauh lagi kok.”&#xA;&#xA;Jarak rumah kita sepuluh menit, kan? Dari minimarket aja dia udah sepucat ini, gimana sampai rumah?&#xA;&#xA;“Oh! Aku ada ide. Tunggu disini. Sebentar aja. Jangan pergi loh.” Yui mengoceh sambil berjalan ke dalam rumah, sesekali menoleh ke arah Daichi yang terlihat bingung.&#xA;&#xA;Benar saja, tak sampai dua menit Yui sudah kembali dengan hoodie putih polos miliknya.&#xA;&#xA;“Kalau aku pikir-pikir jaket kamu kan bekas aku ya, pantes kamu nggak mau pakai. Besok aku balikin ya? Kamu pakai punyaku aja dulu, bersih kok baru dicuci. Nih.”&#xA;&#xA;Daichi memandangi sosok di hadapannya. Tidak ada hal lain selain kecemasan di wajah itu, bibirnya sedikit manyun dengan tubuh berselimut jaket miliknya.&#xA;&#xA;Syukurlah dia tidak benar-benar melihat gadis itu sebelum mengantarnya pulang. Bisa-bisa ia menjadi manusia jahat, mengharap tangis langit tak berhenti sebab hatinya bahagia karenanya.&#xA;&#xA;Daichi tertawa.&#xA;&#xA;“Maksudku nggak gitu sih, tapi ini boleh juga.” Daichi mengelus kepala Yui, lalu memakai hoodie itu.&#xA;&#xA;“Yaudah, aku balik.”&#xA;&#xA;“Hati-hati.” Yui tersenyum, melambaikan tangannya yang separuh tertutup jaket.&#xA;&#xA;“Oh iya, Michimiya?”&#xA;&#xA;“Iya?”&#xA;&#xA;“Jaketnya dibalikin kapan-kapan aja.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>/nu·an·sa/ n.</em> kepekaan terhadap, kewaspadaan atas, atau kemampuan menyatakan adanya pergeseran yang kecil sekali (tentang makna, perasaan, atau nilai);</p></blockquote>

<h5 id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-michimiya-yui-daiyui-fluff-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-haikyuu-f-m-pair-sawamura-daichi-michimiya-yui-daiyui-fluff-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Haikyuu. F/M Pair. Sawamura Daichi. Michimiya Yui. DaiYui. Fluff. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<h6 id="word-count-616" id="word-count-616">Word count: 616.</h6>

<hr/>

<p>Dasar manusia tak pernah puas, Daichi adalah kasus yang Yui tangani begitu tekun—suara dari lelaki itu tak cukup menjadi jawaban. Yui itu tamak, rakus ketika berhadapan dengan misteri.</p>

<p>Seperti saat ini, mereka sedang duduk berdua di minimarket—ditemani mi instan dan kopi susu—menonton langit Yogyakarta menangis. Terima kasih untuk Sugawara, tim suksesnya yang selalu bisa diandalkan untuk memberi kesempatan baginya yang terlalu cupu.</p>

<p>“Maaf ya, harusnya aku siapin kopian proposalnya dari awal.”</p>

<p>“Santai aja.” lelaki itu melempar senyum. “Lagian udah lama nggak nontonin hujan begini. Tenang juga.”</p>

<p>Yui mengangguk setuju sambil menyeruput kuah mi perisa soto. Memang paling pas jika dinikmati saat hangat.</p>

<p>“Deras juga.. Bumi kesakitan nggak ya?” gumamnya, cukup keras untuk didengar Daichi.</p>

<p>“Pernah baca, katanya daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Mungkin bumi juga gitu.”</p>

<p>“Oh? Kamu baca Tere Liye juga?” Yui menatapnya tak percaya. “Kupikir kamu nggak tipikal pembaca buku.”</p>

<p>“Iseng aja. Ibuku suka baca buku.”</p>

<p>“Keren.” puji Yui tulus, mengingat ibunya lebih suka menonton acara gosip di televisi daripada membaca—pengecualian untuk <em>broadcast</em> konyol yang diterima di grup keluarga besar.</p>

<p>“Mau aku kenalin?”</p>

<p>Bukan fakta baru, namun ini acap kali terjadi hingga buku harian Yui penuh kata-kata ini: Daichi piawai memainkan perasaan, bahkan tanpa terlihat mencoba.</p>

<p>Yui memutuskan untuk tertawa saja sembari mengontrol gejolak hatinya, meskipun ia penasaran setengah mati bagaimana reaksi Daichi jika ia jawab bersedia.</p>

<p><em>Palingan juga senyum aja.</em></p>

<p>“Hujannya reda tuh, balik yuk? Aku anter.”</p>

<p>“Adikmu nggak dijemput?”</p>

<p>“Udah balik sama Ibu naik mobil.” Daichi mengambil kunci motornya.</p>

<p>“Maaf lagi, kamu malah jadi nganter aku pulang. Aku pesan ojol aja ya?”</p>

<p>“Udah ah, maaf-maaf terus. Kayak sama siapa aja.”</p>

<p><em>Siapapun tolong hentikan lelaki ini.</em></p>

<p>Yui mengangguk lalu mengikutinya. Namun belum sempat membuka pintu keluar, Daichi berhenti.</p>

<p>“Dingin.”</p>

<p>“Memang.” jawab Yui. “Terus itu jaketnya kenapa dilepas?”</p>

<p>“Dipakai kamu aja.”</p>

<p>Astaga.</p>

<p>Yui tidak tahu seberapa kacau rupanya saat itu, namun kepalanya pusing dan ia lelah. Debar jantungnya memburu, padahal ia bukan sedang penalti keliling lapangan sekolah.</p>

<p>“Nggak bisa gitu. Anginnya kan kena kamu duluan, masa yang dibentengi aku sih?”</p>

<p>“Cuma sepuluh menit.”</p>

<p>Yui menghela napas sebelum akhirnya setuju, takut-takut kalau hujan datang lagi dan mereka harus menunggu lebih lama.</p>

<p>Perjalanan yang hening, mungkin karena Daichi sudah berbincang cukup panjang dengannya. Terlebih hari itu terbilang melelahkan; menjadi siswa, pengurus ekskul, dan panitia perpisahan menyita banyak waktu dan tenaga.</p>

<p>Mereka tiba di depan rumah Yui. Sesegera Yui turun dan melepas jaket, Daichi lebih dahulu mencegatnya. Lengan Yui ditahan tangan nan beku.</p>

<p>“Nggak perlu.”</p>

<p>“Hah? Yang bener aja kamu naik motor begitu ke rumah! Tangan kamu pucat banget.” Yui mengomel.</p>

<p>Kalau saja Yui sekarang sedang tidak khawatir, mungkin ia sudah jingkrak-jingkrak kesenangan dan berpikir untuk menyimpan jaket wangi Daichi untuk sekian hari.</p>

<p>“Nggak jauh lagi kok.”</p>

<p><em>Jarak rumah kita sepuluh menit, kan? Dari minimarket aja dia udah sepucat ini, gimana sampai rumah?</em></p>

<p>“Oh! Aku ada ide. Tunggu disini. Sebentar aja. Jangan pergi loh.” Yui mengoceh sambil berjalan ke dalam rumah, sesekali menoleh ke arah Daichi yang terlihat bingung.</p>

<p>Benar saja, tak sampai dua menit Yui sudah kembali dengan hoodie putih polos miliknya.</p>

<p>“Kalau aku pikir-pikir jaket kamu kan bekas aku ya, pantes kamu nggak mau pakai. Besok aku balikin ya? Kamu pakai punyaku aja dulu, bersih kok baru dicuci. Nih.”</p>

<p>Daichi memandangi sosok di hadapannya. Tidak ada hal lain selain kecemasan di wajah itu, bibirnya sedikit manyun dengan tubuh berselimut jaket miliknya.</p>

<p>Syukurlah dia tidak benar-benar melihat gadis itu sebelum mengantarnya pulang. Bisa-bisa ia menjadi manusia jahat, mengharap tangis langit tak berhenti sebab hatinya bahagia karenanya.</p>

<p>Daichi tertawa.</p>

<p>“Maksudku nggak gitu sih, tapi ini boleh juga.” Daichi mengelus kepala Yui, lalu memakai hoodie itu.</p>

<p>“Yaudah, aku balik.”</p>

<p>“Hati-hati.” Yui tersenyum, melambaikan tangannya yang separuh tertutup jaket.</p>

<p>“Oh iya, Michimiya?”</p>

<p>“Iya?”</p>

<p>“Jaketnya dibalikin kapan-kapan aja.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/nuansa</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Jul 2021 11:03:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Rahasia.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/rahasia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tags: Haikyuu. F/M Pair. Azumane Asahi. Writer!Asahi. Aihara Mao. AsaMao. Fluff. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;Word count: 416.&#xA;&#xA;  ditulis untuk event #July500 di Twitter; terinspirasi dari lagu Rahasia — Payung Teduh.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Asahi duduk termangu, ditemani kedip kursor yang merindu atensi. Semua ini asing baginya; ia penjelajah dari negeri nun jauh, berkelana meraba peta tanpa kompas menatar arah.!--more--&#xA;&#xA;Ia kebingungan. Begitu mudah menyerahkan segalanya ke tangan kecil yang belum pernah ia genggam—terik, rintik, pelik—dunianya lepas kendali sejak wanita itu mendeklarasikan presensi.&#xA;&#xA;Bahkan membuat jemarinya enggan menari—bukan sebab benak tak sanggup melawan, namun sukmanya ampuh ditawan.&#xA;&#xA;Dipandanginya secarik kertas itu. Kata-kata meresahkan hati walau sebatas khayal.&#xA;&#xA;Reuni Akbar.&#xA;&#xA;Sudah pasti bunga itu akan ia temukan, lantaran kala sang surya mengudaralah indahnya mekar berseri.&#xA;&#xA;Apa boleh rembulan merindu kala siang tak memberinya tempat?&#xA;&#xA;Terlanjur berjanji, Asahi akhirnya memantapkan diri untuk menghadapi hitamnya. Toh, bukannya selama ini bulan bersinar di kala malam?&#xA;&#xA;Meski bumi dan awan selalu ada untuk menutupinya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;“Lo kenapa deh, grogi bener.” Sugawara menyikutnya.&#xA;&#xA;Mungkin Asahi sedikit berlebihan dengan stelan jas, mengingat kaos oblong bersandingkan celana pendek dan sendal jepit adalah ciri khas penulis itu.&#xA;&#xA;“Gue ngerasa aneh.” tukasnya.&#xA;&#xA;“Makanya kurangin di rumah mulu, nulis di kafe kek.” saran Daichi.&#xA;&#xA;“Atau coba pacaran.” Sugawara tertawa. “Gue jamin seenggaknya lo mikir isi lemari lo butuh perhatian.”&#xA;&#xA;Bukannya terobati, cemasnya malah semakin berbangga diri. Ia benci bicara cinta, jengah dengan monolog tanpa epilog.&#xA;&#xA;“Enteng bener ngomong begitu.” celetuknya. “Kayak dia demen sama gue.”&#xA;&#xA;Dialog terhenti. Sepasang tuan dan puan tegak berdiri memegang kendali, bertutur kata sesuai rentetan acara yang tersusun rapi.&#xA;&#xA;Ia masih sama, masih sederhana namun menggugah atma. Balutan gaun menyentuh tumit, rambut terbebas dari kuncir yang kala putih abu selalu bersama hingga akhir.&#xA;&#xA;Lihat? Bagaimana mungkin mereka melihatnya dan tidak jatuh hati?&#xA;&#xA;Seolah terbebas dari belenggu, Asahi meraih ponselnya. Mengetik segala kata yang muncul kala ditatapnya sosok itu dari jauh, segala apresiasi dan puji—walau kamus tak cukup ampuh melegakan hati yang penuh.&#xA;&#xA;Mereka saling bertaut tanpa berusaha mendominasi, merajut hasrat dan angan si buta yang mendamba nyala.&#xA;&#xA;“Sibuk banget, pak penulis. Lagi ngetik apa sih?”&#xA;&#xA;Dua pasang netra berjumpa.&#xA;&#xA;Torehan bait-bait hanyalah omong kosong kala ditatapnya molek itu. Lidahnya kelu, yang terdengar hanya teriakan batin sekeras geming. Diserbu seribu satu candu dalam satu waktu, termasuk jantungnya yang kian memburu.&#xA;&#xA;Semua karena wanita itu begitu tenang dan cantik, begitu lembut suara itu menyapanya. Begitu dekat, hingga aroma wewangian akar wangi favoritnya sejak zaman SMA menggelitik hidung.&#xA;&#xA;Bingungnya sirna. Ia yakin tak ingin lepas dari jerat wanita itu—ia ingin tumbuh indah merambat, saling mengikat, menolak berpisah.&#xA;&#xA;Mati-matian Asahi menyimpan semua rasa di balik air muka datar tanpa makna, mengharap semesta sudi izinkan ia bersembunyi.&#xA;&#xA;“Asahi?”&#xA;&#xA;Dia jatuh cinta.&#xA;&#xA;“Rahasia.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h5 id="tags-haikyuu-f-m-pair-azumane-asahi-writer-asahi-aihara-mao-asamao-fluff-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-haikyuu-f-m-pair-azumane-asahi-writer-asahi-aihara-mao-asamao-fluff-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Haikyuu. F/M Pair. Azumane Asahi. Writer!Asahi. Aihara Mao. AsaMao. Fluff. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<h6 id="word-count-416" id="word-count-416">Word count: 416.</h6>

<blockquote><p>ditulis untuk event <a href="https://identitasfana.writeas.com/tag:July500" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">July500</span></a> di Twitter; terinspirasi dari lagu Rahasia — Payung Teduh.</p></blockquote>

<hr/>

<p>Asahi duduk termangu, ditemani kedip kursor yang merindu atensi. Semua ini asing baginya; ia penjelajah dari negeri nun jauh, berkelana meraba peta tanpa kompas menatar arah.</p>

<p>Ia kebingungan. Begitu mudah menyerahkan segalanya ke tangan kecil yang belum pernah ia genggam—terik, rintik, pelik—dunianya lepas kendali sejak wanita itu mendeklarasikan presensi.</p>

<p>Bahkan membuat jemarinya enggan menari—bukan sebab benak tak sanggup melawan, namun sukmanya ampuh ditawan.</p>

<p>Dipandanginya secarik kertas itu. Kata-kata meresahkan hati walau sebatas khayal.</p>

<p><em>Reuni Akbar.</em></p>

<p>Sudah pasti bunga itu akan ia temukan, lantaran kala sang surya mengudaralah indahnya mekar berseri.</p>

<p>Apa boleh rembulan merindu kala siang tak memberinya tempat?</p>

<p>Terlanjur berjanji, Asahi akhirnya memantapkan diri untuk menghadapi hitamnya. Toh, bukannya selama ini bulan bersinar di kala malam?</p>

<p>Meski bumi dan awan selalu ada untuk menutupinya.</p>

<hr/>

<p>“Lo kenapa deh, grogi bener.” Sugawara menyikutnya.</p>

<p>Mungkin Asahi sedikit berlebihan dengan stelan jas, mengingat kaos oblong bersandingkan celana pendek dan sendal jepit adalah ciri khas penulis itu.</p>

<p>“Gue ngerasa aneh.” tukasnya.</p>

<p>“Makanya kurangin di rumah mulu, nulis di kafe kek.” saran Daichi.</p>

<p>“Atau coba pacaran.” Sugawara tertawa. “Gue jamin seenggaknya lo mikir isi lemari lo butuh perhatian.”</p>

<p>Bukannya terobati, cemasnya malah semakin berbangga diri. Ia benci bicara cinta, jengah dengan monolog tanpa epilog.</p>

<p>“Enteng bener ngomong begitu.” celetuknya. “Kayak dia demen sama gue.”</p>

<p>Dialog terhenti. Sepasang tuan dan puan tegak berdiri memegang kendali, bertutur kata sesuai rentetan acara yang tersusun rapi.</p>

<p>Ia masih sama, masih sederhana namun menggugah atma. Balutan gaun menyentuh tumit, rambut terbebas dari kuncir yang kala putih abu selalu bersama hingga akhir.</p>

<p><em>Lihat? Bagaimana mungkin mereka melihatnya dan tidak jatuh hati?</em></p>

<p>Seolah terbebas dari belenggu, Asahi meraih ponselnya. Mengetik segala kata yang muncul kala ditatapnya sosok itu dari jauh, segala apresiasi dan puji—walau kamus tak cukup ampuh melegakan hati yang penuh.</p>

<p>Mereka saling bertaut tanpa berusaha mendominasi, merajut hasrat dan angan si buta yang mendamba nyala.</p>

<p>“Sibuk banget, pak penulis. Lagi ngetik apa sih?”</p>

<p>Dua pasang netra berjumpa.</p>

<p>Torehan bait-bait hanyalah omong kosong kala ditatapnya molek itu. Lidahnya kelu, yang terdengar hanya teriakan batin sekeras geming. Diserbu seribu satu candu dalam satu waktu, termasuk jantungnya yang kian memburu.</p>

<p>Semua karena wanita itu begitu tenang dan cantik, begitu lembut suara itu menyapanya. Begitu dekat, hingga aroma wewangian akar wangi favoritnya sejak zaman SMA menggelitik hidung.</p>

<p>Bingungnya sirna. Ia yakin tak ingin lepas dari jerat wanita itu—ia ingin tumbuh indah merambat, saling mengikat, menolak berpisah.</p>

<p>Mati-matian Asahi menyimpan semua rasa di balik air muka datar tanpa makna, mengharap semesta sudi izinkan ia bersembunyi.</p>

<p>“Asahi?”</p>

<p><em>Dia jatuh cinta.</em></p>

<p>“Rahasia.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/rahasia</guid>
      <pubDate>Fri, 16 Jul 2021 02:27:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kejar.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/kejar?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tags: Haikyuu. Ennoshita Chikara. Insecurity. Anger. Harsh words. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang pertama.&#xA;  Pengingat: Fiksi ditulis untuk hiburan semata, tidak berkaitan dengan cerita asli.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Aku benci berlari.!--more--&#xA;&#xA;Aku benci menjemput garis akhir hanya untuk menemui garis awal. Aku benci harus bersungut-sungut menatap ke depan, di saat kanan-kiri mengikuti dengan kecepatan di luar jangkauan. Aku benci mengitari lingkaran hanya untuk mencari kemenangan.&#xA;&#xA;Maksudku, ayolah. Dimanakah yang orang sebut dengan proses lebih penting daripada hasil? Pada akhirnya yang dicari hanyalah kompetisi.&#xA;&#xA;Bahkan hitam pun punya tingkat legam. Kuasa apa yang mereka punya untuk menyamaratakan manusia?&#xA;&#xA;Sehari membaik, esoknya hanya pelik. Diam pun terdengar bagai pekik.&#xA;&#xA;Harus bagaimana agar semuanya tetap apik?&#xA;&#xA;Ping!&#xA;&#xA;Enno, besok di Sushitei jam 4 ya! Syukuran gue lulus nasional. Gue tunggu.&#xA;&#xA;Persetan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h5 id="tags-haikyuu-ennoshita-chikara-insecurity-anger-harsh-words-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-pertama" id="tags-haikyuu-ennoshita-chikara-insecurity-anger-harsh-words-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-pertama">Tags: Haikyuu. Ennoshita Chikara. Insecurity. Anger. Harsh words. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang pertama.</h5>

<blockquote><p>Pengingat: Fiksi ditulis untuk hiburan semata, tidak berkaitan dengan cerita asli.</p></blockquote>

<hr/>

<p>Aku benci berlari.</p>

<p>Aku benci menjemput garis akhir hanya untuk menemui garis awal. Aku benci harus bersungut-sungut menatap ke depan, di saat kanan-kiri mengikuti dengan kecepatan di luar jangkauan. Aku benci mengitari lingkaran hanya untuk mencari kemenangan.</p>

<p>Maksudku, ayolah. Dimanakah yang orang sebut dengan proses lebih penting daripada hasil? Pada akhirnya yang dicari hanyalah kompetisi.</p>

<p>Bahkan hitam pun punya tingkat legam. Kuasa apa yang mereka punya untuk menyamaratakan manusia?</p>

<p>Sehari membaik, esoknya hanya pelik. Diam pun terdengar bagai pekik.</p>

<p>Harus bagaimana agar semuanya tetap apik?</p>

<p><em>Ping!</em></p>

<p><em>Enno, besok di Sushitei jam 4 ya! Syukuran gue lulus nasional. Gue tunggu.</em></p>

<p>Persetan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/kejar</guid>
      <pubDate>Sat, 16 Jan 2021 12:16:59 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kalah.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/kalah?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tags: Haikyuu. Azumane Asahi. Insecurity. Mention of alcohol and cigarettes. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;  Pengingat: Fiksi ditulis untuk hiburan semata, tidak berkaitan dengan cerita asli.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Kalau ditanya peka, Asahi paling jago. Terutama tentang perasaannya.!--more--&#xA;&#xA;Harus terjebak dalam sesak, menyelam dalam diam, merutuk dalam suntuk. Untuk setiap detik yang habis demi mencari tabib, Asahi berhak untuk rehat sejenak.&#xA;&#xA;Lukanya itu memar—dalam, berbekas, lama sembuhnya—hasil bentur biru yang pilu dan takdir yang getir. Apa daya Asahi yang hanya mampu membeli plester luka dan obat merah.&#xA;&#xA;Merasa muak dengan alkohol dan nikotin, Asahi bangkit dari tempat tidurnya. Sepatu olahraga itu sudah lama tidak dipakai. Benda mati yang menyimpan banyak rasa, agak seperti dirinya.&#xA;&#xA;Bedanya, yang mati itu hatinya. Soal fisik, dia itu sempurna.&#xA;&#xA;Menarik nafas dalam-dalam, Asahi memantapkan langkah untuk keluar dari persembunyiannya. Aktivitas lari sore yang dulu menjadi rutinitas kini ia coba rintis kembali.&#xA;&#xA;Berjalan. Semakin lama ayunan langkah semakin cepat hingga akhirnya stabil.&#xA;&#xA;Mendekati lapangan, mulai terlihat rumah keduanya saat SMA silam. Kini setelah menyandang gelar alumni, ia tidak pernah lagi menjejaki tempat itu. Bahkan setiap dua sahabat karibnya—yang kini menempuh pendidikan lebih lanjut—merancang temu, ia selalu siaga dengan buku Excuse 101: Seni Mengatakan Tidak Tanpa Menyakiti Perasaan hasil brainstorm setiap malam.&#xA;&#xA;Samar suara bola menghantam lantai kayu terdengar, diiringi suara teriakan dan peluit. Suara yang dulu menemaninya seperti lagu country favoritnya di jalan pulang sekolah, meski ia harus tampil sebagai generasi delapan puluhan karena seleranya.&#xA;&#xA;“Nice serve, Yamaguchi!”&#xA;&#xA;“Hinata, nice cover!”&#xA;&#xA;“Kageyama!! Bagi aku bolanya!!”&#xA;&#xA;Bertumbuh dengan baik, ya? Mengapa saat semua memijak fast forward, justru dirinya yang terjebak dalam jeruji rewind? &#xA;&#xA;Tidak adil.&#xA;&#xA;Lalu, selama ini usahanya bernilai apa? Omong kosong? Jadi, saat itu dia harus mengayuh pedal sekuat apa lagi?&#xA;&#xA;Dimana salah itu berada?&#xA;&#xA;Sesal dirasa. Lebih baik ia menetap di rumah, berkutat dengan nelangsa. Persinggahan yang hanya menebar garam di atas luka, mempersempit ruang untuk sedikit cinta diri yang mati-matian ia beri.&#xA;&#xA;Asahi hanya berjalan kaki. Kalau-kalau sesak ini hanya &#39;kan membawanya mati.&#xA;&#xA;Berjalan. Semakin lama ayunan langkah semakin lambat hingga akhirnya berhenti.&#xA;&#xA;Ia tahu jarum jam tak berputar ke arah kiri.&#xA;&#xA;Bukan ia teringat lagi, namun hatinya memang sudah berakar di sana.&#xA;&#xA;Kalah.&#xA;&#xA;Ia selalu kalah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h5 id="tags-haikyuu-azumane-asahi-insecurity-mention-of-alcohol-and-cigarettes-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-haikyuu-azumane-asahi-insecurity-mention-of-alcohol-and-cigarettes-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Haikyuu. Azumane Asahi. Insecurity. Mention of alcohol and cigarettes. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<blockquote><p>Pengingat: Fiksi ditulis untuk hiburan semata, tidak berkaitan dengan cerita asli.</p></blockquote>

<hr/>

<p>Kalau ditanya peka, Asahi paling jago. Terutama tentang perasaannya.</p>

<p>Harus terjebak dalam sesak, menyelam dalam diam, merutuk dalam suntuk. Untuk setiap detik yang habis demi mencari tabib, Asahi berhak untuk rehat sejenak.</p>

<p>Lukanya itu memar—dalam, berbekas, lama sembuhnya—hasil bentur biru yang pilu dan takdir yang getir. Apa daya Asahi yang hanya mampu membeli plester luka dan obat merah.</p>

<p>Merasa muak dengan alkohol dan nikotin, Asahi bangkit dari tempat tidurnya. Sepatu olahraga itu sudah lama tidak dipakai. Benda mati yang menyimpan banyak rasa, agak seperti dirinya.</p>

<p>Bedanya, yang mati itu hatinya. Soal fisik, dia itu sempurna.</p>

<p>Menarik nafas dalam-dalam, Asahi memantapkan langkah untuk keluar dari persembunyiannya. Aktivitas lari sore yang dulu menjadi rutinitas kini ia coba rintis kembali.</p>

<p>Berjalan. Semakin lama ayunan langkah semakin cepat hingga akhirnya stabil.</p>

<p>Mendekati lapangan, mulai terlihat rumah keduanya saat SMA silam. Kini setelah menyandang gelar alumni, ia tidak pernah lagi menjejaki tempat itu. Bahkan setiap dua sahabat karibnya—yang kini menempuh pendidikan lebih lanjut—merancang temu, ia selalu siaga dengan buku <em>Excuse 101: Seni Mengatakan Tidak Tanpa Menyakiti Perasaan</em> hasil <em>brainstorm</em> setiap malam.</p>

<p>Samar suara bola menghantam lantai kayu terdengar, diiringi suara teriakan dan peluit. Suara yang dulu menemaninya seperti lagu <em>country</em> favoritnya di jalan pulang sekolah, meski ia harus tampil sebagai generasi delapan puluhan karena seleranya.</p>

<p><em>“Nice serve, Yamaguchi!”</em></p>

<p><em>“Hinata, nice cover!”</em></p>

<p><em>“Kageyama!! Bagi aku bolanya!!”</em></p>

<p>Bertumbuh dengan baik, ya? Mengapa saat semua memijak <em>fast forward</em>, justru dirinya yang terjebak dalam jeruji <em>rewind</em>?</p>

<p>Tidak adil.</p>

<p>Lalu, selama ini usahanya bernilai apa? Omong kosong? Jadi, saat itu dia harus mengayuh pedal sekuat apa lagi?</p>

<p>Dimana salah itu berada?</p>

<p>Sesal dirasa. Lebih baik ia menetap di rumah, berkutat dengan nelangsa. Persinggahan yang hanya menebar garam di atas luka, mempersempit ruang untuk sedikit cinta diri yang mati-matian ia beri.</p>

<p>Asahi hanya berjalan kaki. Kalau-kalau sesak ini hanya &#39;kan membawanya mati.</p>

<p>Berjalan. Semakin lama ayunan langkah semakin lambat hingga akhirnya berhenti.</p>

<p>Ia tahu jarum jam tak berputar ke arah kiri.</p>

<p>Bukan ia teringat lagi, namun hatinya memang sudah berakar di sana.</p>

<p>Kalah.</p>

<p>Ia selalu kalah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/kalah</guid>
      <pubDate>Sun, 10 Jan 2021 15:50:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Momentum.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/momentum?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tags: Haikyuu. F/M Pair. Tanaka Ryuunosuke. Shimizu Kiyoko. Idol!Kiyoko. TanaKiyo. Harsh words. Insecurity. Fluff. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;  Pengingat: Fiksi ditulis untuk hiburan semata, tidak berkaitan dengan cerita asli.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;“Hah, gila. Berisik.”!--more--&#xA;&#xA;Kasut usang yang sudah seharusnya diganti dipandanginya sembari duduk membatu dilanda jemu. Di sana ia bertahan dalam ketidaknyamanan, ditemani canda tawa yang seolah mencela. Hiruk pikuk dunia sekelilingnya terasa seperti mereka berada di galaksi yang berbeda.&#xA;&#xA;Asing.&#xA;&#xA;“Ide lo nih, ngapain coba gue ikutan acara beginian.”&#xA;&#xA;Yang diajak bicara hanya tertawa. “Trus lo maunya ikutan apa? Pengajian?”&#xA;&#xA;“Lo belum tau aja hidup jadi beban tuh gimana. Jadi badut tapi nggak dibayar.” keluhnya. “Udah ah, gue mau pulang. Goblok orang-orang semua.”&#xA;&#xA;“Lah ngambek.” Nishinoya tertawa lagi. “Yaudah, pergi sana. Awas nyesel lo, the best part is yet to come.”&#xA;&#xA;Tanaka hanya tersenyum kecut, namun kakinya tetap beranjak dari tempat itu sesegera mungkin.&#xA;&#xA;Jengah Tanaka berada di ruang rias ini; semua orang bersolek diri dengan Dior, Balenciaga atau apalah, yang ia sendiri baru tahu harganya bisa mewujudkan angan: kepemilikan rumah dan usaha kecil untuk mencari makan.&#xA;&#xA;Mereka semua terlihat gagah, jelas dengan karir dan masa depannya. Setidaknya mereka tahu ingin melakukan apa. Tanaka yang berjalan tanpa kompas di tengah hutan belantara bisa apa?&#xA;&#xA;Berjalan cepat hingga kanan kiri mengaduh, derap itu akhirnya terhenti bersama jalannya waktu.&#xA;&#xA;Rambut biru tua selaras sepasang netra di bawah bulu mata yang lentik, bibir tanpa senyum yang membuatnya hadir bak misteri, dan jaket kulit kontras dengan rona kulitnya. Sosok yang ia kira hanya bisa disaksikan di majalah toko buku persimpangan jalan, maupun dari balik jendela kelas sejak masa putih abu.&#xA;&#xA;Tanaka termangu. Dalam hati memuji segala Tuhan untuk peluang itu.&#xA;&#xA;“Sori, lo nggak apa kan?” yang menabrak mengulurkan tangan.&#xA;&#xA;Salahkan semesta telah mengacaukan titik temu, namun bualan jika Tanaka menyangkal bahagia yang menggelitik hatinya. Tak peduli akan buta, terang itu diserapnya dengan sepasang mata penuh harap.&#xA;&#xA;“Kalau lo ngerasa sori, wanna have a drink with me?”&#xA;&#xA;Saling pandang, entah darimana kepercayaan diri itu datang. &#xA;&#xA;Anjing, tolol banget.&#xA;&#xA;“Sori, lupain aja. Barusan gue ngigau, kayaknya kebanyakan minum.”&#xA;&#xA;Tanaka sudah bersiap ditinggal pergi setelah memperkenalkan dirinya sebagai maniak dan pembohong ulung. Meski begitu, semesta berada di pihaknya. Sang gadis tertawa kecil, matanya menyipit sebab pipinya yang menggembung lucu.&#xA;&#xA;Tanaka bersumpah selamanya saat ini akan terpatri. &#xA;&#xA;“Kesempatan.” ia mendengus pelan. “Sini, hp lo.”&#xA;&#xA;Seperti terhipnotis, Tanaka melakukan apa yang gadis itu pinta. Matanya tak lepas darinya, seolah takut sosok di hadapannya lari mencuri jantungnya, satu-satunya harta yang ia miliki sekarang selain kasut butut dan ponsel zaman dulu.&#xA;&#xA;“Sori, gue buru-buru. Lo atur aja kapan. Gue tunggu, Tanaka.” ucapnya dengan senyum sebelum meninggalkan Tanaka yang membatu pangling.&#xA;&#xA;Mengumpat bodoh sana-sini, tanpa sadar bodoh itu adalah dirinya sendiri. Memandangi ponsel lawasnya dengan tangan gemetar, nama Shimizu Kiyoko membuat benda itu seolah artefak kuno yang layak dimuseumkan.&#xA;&#xA;Dia tahu nama gue.&#xA;&#xA;“Bangsat. Barusan tadi apa?”&#xA;&#xA;Hah, gila. Tanaka bisa gila.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h5 id="tags-haikyuu-f-m-pair-tanaka-ryuunosuke-shimizu-kiyoko-idol-kiyoko-tanakiyo-harsh-words-insecurity-fluff-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-haikyuu-f-m-pair-tanaka-ryuunosuke-shimizu-kiyoko-idol-kiyoko-tanakiyo-harsh-words-insecurity-fluff-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Haikyuu. F/M Pair. Tanaka Ryuunosuke. Shimizu Kiyoko. Idol!Kiyoko. TanaKiyo. Harsh words. Insecurity. Fluff. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<blockquote><p>Pengingat: Fiksi ditulis untuk hiburan semata, tidak berkaitan dengan cerita asli.</p></blockquote>

<hr/>

<p>“Hah, gila. Berisik.”</p>

<p>Kasut usang yang sudah seharusnya diganti dipandanginya sembari duduk membatu dilanda jemu. Di sana ia bertahan dalam ketidaknyamanan, ditemani canda tawa yang seolah mencela. Hiruk pikuk dunia sekelilingnya terasa seperti mereka berada di galaksi yang berbeda.</p>

<p>Asing.</p>

<p>“Ide lo nih, ngapain coba gue ikutan acara beginian.”</p>

<p>Yang diajak bicara hanya tertawa. “Trus lo maunya ikutan apa? Pengajian?”</p>

<p>“Lo belum tau aja hidup jadi beban tuh gimana. Jadi badut tapi nggak dibayar.” keluhnya. “Udah ah, gue mau pulang. Goblok orang-orang semua.”</p>

<p>“Lah ngambek.” Nishinoya tertawa lagi. “Yaudah, pergi sana. Awas nyesel lo, <em>the best part is yet to come</em>.”</p>

<p>Tanaka hanya tersenyum kecut, namun kakinya tetap beranjak dari tempat itu sesegera mungkin.</p>

<p>Jengah Tanaka berada di ruang rias ini; semua orang bersolek diri dengan <em>Dior</em>, <em>Balenciaga</em> atau apalah, yang ia sendiri baru tahu harganya bisa mewujudkan angan: kepemilikan rumah dan usaha kecil untuk mencari makan.</p>

<p>Mereka semua terlihat gagah, jelas dengan karir dan masa depannya. Setidaknya mereka tahu ingin melakukan apa. Tanaka yang berjalan tanpa kompas di tengah hutan belantara bisa apa?</p>

<p>Berjalan cepat hingga kanan kiri mengaduh, derap itu akhirnya terhenti bersama jalannya waktu.</p>

<p>Rambut biru tua selaras sepasang netra di bawah bulu mata yang lentik, bibir tanpa senyum yang membuatnya hadir bak misteri, dan jaket kulit kontras dengan rona kulitnya. Sosok yang ia kira hanya bisa disaksikan di majalah toko buku persimpangan jalan, maupun dari balik jendela kelas sejak masa putih abu.</p>

<p>Tanaka termangu. Dalam hati memuji segala Tuhan untuk peluang itu.</p>

<p>“Sori, lo nggak apa kan?” yang menabrak mengulurkan tangan.</p>

<p>Salahkan semesta telah mengacaukan titik temu, namun bualan jika Tanaka menyangkal bahagia yang menggelitik hatinya. Tak peduli akan buta, terang itu diserapnya dengan sepasang mata penuh harap.</p>

<p>“Kalau lo ngerasa sori, <em>wanna have a drink with me?</em>”</p>

<p>Saling pandang, entah darimana kepercayaan diri itu datang.</p>

<p><em>Anjing, tolol banget.</em></p>

<p>“Sori, lupain aja. Barusan gue ngigau, kayaknya kebanyakan minum.”</p>

<p>Tanaka sudah bersiap ditinggal pergi setelah memperkenalkan dirinya sebagai maniak dan pembohong ulung. Meski begitu, semesta berada di pihaknya. Sang gadis tertawa kecil, matanya menyipit sebab pipinya yang menggembung lucu.</p>

<p>Tanaka bersumpah selamanya saat ini akan terpatri.</p>

<p>“Kesempatan.” ia mendengus pelan. “Sini, <em>hp</em> lo.”</p>

<p>Seperti terhipnotis, Tanaka melakukan apa yang gadis itu pinta. Matanya tak lepas darinya, seolah takut sosok di hadapannya lari mencuri jantungnya, satu-satunya harta yang ia miliki sekarang selain kasut butut dan ponsel zaman dulu.</p>

<p>“Sori, gue buru-buru. Lo atur aja kapan. Gue tunggu, Tanaka.” ucapnya dengan senyum sebelum meninggalkan Tanaka yang membatu pangling.</p>

<p>Mengumpat bodoh sana-sini, tanpa sadar bodoh itu adalah dirinya sendiri. Memandangi ponsel lawasnya dengan tangan gemetar, nama Shimizu Kiyoko membuat benda itu seolah artefak kuno yang layak dimuseumkan.</p>

<p><em>Dia tahu nama gue.</em></p>

<p>“Bangsat. Barusan tadi apa?”</p>

<p>Hah, gila. Tanaka bisa gila.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/momentum</guid>
      <pubDate>Fri, 01 Jan 2021 02:13:07 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>