<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>July500 &amp;mdash; identitasfana</title>
    <link>https://identitasfana.writeas.com/tag:July500</link>
    <description>hi! thank you for NOT plagiarizing and resharing my works without permission. enjoy your stay!</description>
    <pubDate>Sun, 24 May 2026 16:34:43 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Rahasia.</title>
      <link>https://identitasfana.writeas.com/rahasia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tags: Haikyuu. F/M Pair. Azumane Asahi. Writer!Asahi. Aihara Mao. AsaMao. Fluff. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.&#xA;Word count: 416.&#xA;&#xA;  ditulis untuk event #July500 di Twitter; terinspirasi dari lagu Rahasia — Payung Teduh.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Asahi duduk termangu, ditemani kedip kursor yang merindu atensi. Semua ini asing baginya; ia penjelajah dari negeri nun jauh, berkelana meraba peta tanpa kompas menatar arah.!--more--&#xA;&#xA;Ia kebingungan. Begitu mudah menyerahkan segalanya ke tangan kecil yang belum pernah ia genggam—terik, rintik, pelik—dunianya lepas kendali sejak wanita itu mendeklarasikan presensi.&#xA;&#xA;Bahkan membuat jemarinya enggan menari—bukan sebab benak tak sanggup melawan, namun sukmanya ampuh ditawan.&#xA;&#xA;Dipandanginya secarik kertas itu. Kata-kata meresahkan hati walau sebatas khayal.&#xA;&#xA;Reuni Akbar.&#xA;&#xA;Sudah pasti bunga itu akan ia temukan, lantaran kala sang surya mengudaralah indahnya mekar berseri.&#xA;&#xA;Apa boleh rembulan merindu kala siang tak memberinya tempat?&#xA;&#xA;Terlanjur berjanji, Asahi akhirnya memantapkan diri untuk menghadapi hitamnya. Toh, bukannya selama ini bulan bersinar di kala malam?&#xA;&#xA;Meski bumi dan awan selalu ada untuk menutupinya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;“Lo kenapa deh, grogi bener.” Sugawara menyikutnya.&#xA;&#xA;Mungkin Asahi sedikit berlebihan dengan stelan jas, mengingat kaos oblong bersandingkan celana pendek dan sendal jepit adalah ciri khas penulis itu.&#xA;&#xA;“Gue ngerasa aneh.” tukasnya.&#xA;&#xA;“Makanya kurangin di rumah mulu, nulis di kafe kek.” saran Daichi.&#xA;&#xA;“Atau coba pacaran.” Sugawara tertawa. “Gue jamin seenggaknya lo mikir isi lemari lo butuh perhatian.”&#xA;&#xA;Bukannya terobati, cemasnya malah semakin berbangga diri. Ia benci bicara cinta, jengah dengan monolog tanpa epilog.&#xA;&#xA;“Enteng bener ngomong begitu.” celetuknya. “Kayak dia demen sama gue.”&#xA;&#xA;Dialog terhenti. Sepasang tuan dan puan tegak berdiri memegang kendali, bertutur kata sesuai rentetan acara yang tersusun rapi.&#xA;&#xA;Ia masih sama, masih sederhana namun menggugah atma. Balutan gaun menyentuh tumit, rambut terbebas dari kuncir yang kala putih abu selalu bersama hingga akhir.&#xA;&#xA;Lihat? Bagaimana mungkin mereka melihatnya dan tidak jatuh hati?&#xA;&#xA;Seolah terbebas dari belenggu, Asahi meraih ponselnya. Mengetik segala kata yang muncul kala ditatapnya sosok itu dari jauh, segala apresiasi dan puji—walau kamus tak cukup ampuh melegakan hati yang penuh.&#xA;&#xA;Mereka saling bertaut tanpa berusaha mendominasi, merajut hasrat dan angan si buta yang mendamba nyala.&#xA;&#xA;“Sibuk banget, pak penulis. Lagi ngetik apa sih?”&#xA;&#xA;Dua pasang netra berjumpa.&#xA;&#xA;Torehan bait-bait hanyalah omong kosong kala ditatapnya molek itu. Lidahnya kelu, yang terdengar hanya teriakan batin sekeras geming. Diserbu seribu satu candu dalam satu waktu, termasuk jantungnya yang kian memburu.&#xA;&#xA;Semua karena wanita itu begitu tenang dan cantik, begitu lembut suara itu menyapanya. Begitu dekat, hingga aroma wewangian akar wangi favoritnya sejak zaman SMA menggelitik hidung.&#xA;&#xA;Bingungnya sirna. Ia yakin tak ingin lepas dari jerat wanita itu—ia ingin tumbuh indah merambat, saling mengikat, menolak berpisah.&#xA;&#xA;Mati-matian Asahi menyimpan semua rasa di balik air muka datar tanpa makna, mengharap semesta sudi izinkan ia bersembunyi.&#xA;&#xA;“Asahi?”&#xA;&#xA;Dia jatuh cinta.&#xA;&#xA;“Rahasia.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h5 id="tags-haikyuu-f-m-pair-azumane-asahi-writer-asahi-aihara-mao-asamao-fluff-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga" id="tags-haikyuu-f-m-pair-azumane-asahi-writer-asahi-aihara-mao-asamao-fluff-ditulis-dalam-bahasa-indonesia-sudut-pandang-orang-ketiga">Tags: Haikyuu. F/M Pair. Azumane Asahi. Writer!Asahi. Aihara Mao. AsaMao. Fluff. Ditulis dalam bahasa Indonesia, sudut pandang orang ketiga.</h5>

<h6 id="word-count-416" id="word-count-416">Word count: 416.</h6>

<blockquote><p>ditulis untuk event <a href="https://identitasfana.writeas.com/tag:July500" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">July500</span></a> di Twitter; terinspirasi dari lagu Rahasia — Payung Teduh.</p></blockquote>

<hr/>

<p>Asahi duduk termangu, ditemani kedip kursor yang merindu atensi. Semua ini asing baginya; ia penjelajah dari negeri nun jauh, berkelana meraba peta tanpa kompas menatar arah.</p>

<p>Ia kebingungan. Begitu mudah menyerahkan segalanya ke tangan kecil yang belum pernah ia genggam—terik, rintik, pelik—dunianya lepas kendali sejak wanita itu mendeklarasikan presensi.</p>

<p>Bahkan membuat jemarinya enggan menari—bukan sebab benak tak sanggup melawan, namun sukmanya ampuh ditawan.</p>

<p>Dipandanginya secarik kertas itu. Kata-kata meresahkan hati walau sebatas khayal.</p>

<p><em>Reuni Akbar.</em></p>

<p>Sudah pasti bunga itu akan ia temukan, lantaran kala sang surya mengudaralah indahnya mekar berseri.</p>

<p>Apa boleh rembulan merindu kala siang tak memberinya tempat?</p>

<p>Terlanjur berjanji, Asahi akhirnya memantapkan diri untuk menghadapi hitamnya. Toh, bukannya selama ini bulan bersinar di kala malam?</p>

<p>Meski bumi dan awan selalu ada untuk menutupinya.</p>

<hr/>

<p>“Lo kenapa deh, grogi bener.” Sugawara menyikutnya.</p>

<p>Mungkin Asahi sedikit berlebihan dengan stelan jas, mengingat kaos oblong bersandingkan celana pendek dan sendal jepit adalah ciri khas penulis itu.</p>

<p>“Gue ngerasa aneh.” tukasnya.</p>

<p>“Makanya kurangin di rumah mulu, nulis di kafe kek.” saran Daichi.</p>

<p>“Atau coba pacaran.” Sugawara tertawa. “Gue jamin seenggaknya lo mikir isi lemari lo butuh perhatian.”</p>

<p>Bukannya terobati, cemasnya malah semakin berbangga diri. Ia benci bicara cinta, jengah dengan monolog tanpa epilog.</p>

<p>“Enteng bener ngomong begitu.” celetuknya. “Kayak dia demen sama gue.”</p>

<p>Dialog terhenti. Sepasang tuan dan puan tegak berdiri memegang kendali, bertutur kata sesuai rentetan acara yang tersusun rapi.</p>

<p>Ia masih sama, masih sederhana namun menggugah atma. Balutan gaun menyentuh tumit, rambut terbebas dari kuncir yang kala putih abu selalu bersama hingga akhir.</p>

<p><em>Lihat? Bagaimana mungkin mereka melihatnya dan tidak jatuh hati?</em></p>

<p>Seolah terbebas dari belenggu, Asahi meraih ponselnya. Mengetik segala kata yang muncul kala ditatapnya sosok itu dari jauh, segala apresiasi dan puji—walau kamus tak cukup ampuh melegakan hati yang penuh.</p>

<p>Mereka saling bertaut tanpa berusaha mendominasi, merajut hasrat dan angan si buta yang mendamba nyala.</p>

<p>“Sibuk banget, pak penulis. Lagi ngetik apa sih?”</p>

<p>Dua pasang netra berjumpa.</p>

<p>Torehan bait-bait hanyalah omong kosong kala ditatapnya molek itu. Lidahnya kelu, yang terdengar hanya teriakan batin sekeras geming. Diserbu seribu satu candu dalam satu waktu, termasuk jantungnya yang kian memburu.</p>

<p>Semua karena wanita itu begitu tenang dan cantik, begitu lembut suara itu menyapanya. Begitu dekat, hingga aroma wewangian akar wangi favoritnya sejak zaman SMA menggelitik hidung.</p>

<p>Bingungnya sirna. Ia yakin tak ingin lepas dari jerat wanita itu—ia ingin tumbuh indah merambat, saling mengikat, menolak berpisah.</p>

<p>Mati-matian Asahi menyimpan semua rasa di balik air muka datar tanpa makna, mengharap semesta sudi izinkan ia bersembunyi.</p>

<p>“Asahi?”</p>

<p><em>Dia jatuh cinta.</em></p>

<p>“Rahasia.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://identitasfana.writeas.com/rahasia</guid>
      <pubDate>Fri, 16 Jul 2021 02:27:59 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>